Melayani dan Memelihara Kehidupan

 Melayani dan Memelihara Kehidupan

Ilustrasi (JalaStoria.id)

Oleh: Farida Mahri

 

Minggu lalu, satu orang murid kami di Sekolah Alam Wangsakerta beserta satu orang pendamping, memperoleh kesempatan menjadi relawan di sebuah lembaga. Tugasnya adalah melakukan input data keluarga miskin di Kabupaten Cirebon. Pendataan ini dilakukan untuk menentukan pemberian bantuan bagi warga miskin yang terkena dampak melemahnya ekonomi akibat wabah virus Corona alias Covid-19.

 

Mereka berdua berjibaku melakukan input data bersama tujuh orang relawan lainnya dari berbagai daerah di Cirebon. Selama empat hari mereka melakukan input data, kadang sampai larut malam hingga mereka memutuskan untuk menginap di kantor.

 

Saya mendapat laporan dari pendamping bahwa murid kami, Beah (16 tahun), sangat tekun dan rajin. Ia bukan hanya tekun melakukan input data, tetapi ia juga melakukan bersih-bersih di kantor tersebut. Meskipun itu bukan rumahnya, kebiasaannya untuk bersih-bersih dilakukannya, sebagaimana ia  lakukan di sekolah sebagai bagian dari pendidikan Sekolah Alam Wangsakerta.

 

Ia menyapu, mengepel lantai kantor tersebut, bahkan mencuci piring. Tindakan seperti ini sederhana, tetapi bukan tidak mungkin banyak orang seringkali tidak mau melakukan hal semacam itu, apalagi laki-laki, Laki-laki seringkali anti melakukan melakukan kegiatan bersih-bersih rumah bahkan di rumahnya sendiri.

 

Stereotype

 

Sering kita dengar perkataan “itukan pekerjaan perempuan”, atau bahkan pekerjaan itu disematkan menjadi “wajib” dilakukan perempuan. Sementara itu sering pula terdengar kata-kata “emangnya aku pembantu”, untuk mengungkapkan keengganan melakukan pekerjaan tersebut.

 

Menurut saya itu perkataan yang jelas keliru. Perkataan itu menunjukkan stereotype bahwa pekerjaan bersih-bersih adalah pekerjaan perempuan, dan pekerjaan perempuan adalah pekerjaan rendah. Hal ini berdampak pula pada stereotype terhadap pekerja rumah tangga (PRT) atau yang masih dikenal dengan istilah “pembantu” yang bekerja melakukan bersih-bersih rumah. Stereotype bahwa PRT pekerja rendahan, tidak peduli sekalipun yang melakukan itu adalah laki-laki. Akibatnya mereka seringkali tidak dihargai bahkan menjadi korban kekerasan. Ini adalah masalah serius dalam tatanan budaya kita sebagai orang Indonesia yang konon punya falsafah hidup  gotong royong serta welas asih pada sesama.

 

Banyak keluarga yang masih meletakkan tugas domestik hanya kepada perempuan. Dalam kondisi demikian, apakah keluarga itu menganggap ibu sebagai “Pembantu”, karena ibulah yang seringkali melakukan kegiatan bersih-bersih rumah?

 

Ibu melakukan itu bukan karena dia bekerja dan “digaji”, tetapi untuk melayani dan memelihara keluarganya. Ibu di rumah menyadari bahwa kenyamanan keluarga sangat penting, termasuk kenyamanan dirinya. Suami yang lelah bekerja dan anak-anak yang penuh aktivitas seharian membutuhkan kebersihan agar keluarga terlindungi dari penyakit dan beristirahat dengan nyaman di rumah.

 

Memelihara Kehidupan

 

Di sisi lain, pekerjaan bersih-bersih rumah juga bagian dari tugas para pekerja rumah tangga,. Mereka bekerja demi sesuap nasi bagi keluarganya. Dengan demikian, merendahkan pekerjaan bersih-bersih atau orang yang melakukan pekerjaan itu sama saja dengan merendahkan ibu kita, merendahkan para pekerja rumah tangga, padahal tanpa mereka kita tidak dapat menikmati kehidupan yang nyaman.

 

Pekerjaan bersih-bersih juga merupakan pekerjaan jasa, pekerjaan melayani. Melayani bukanlah kegiatan yang rendah.  Hampir semua pekerjaan memuat pelayanan. Melayani nasabah, melayani pelanggan, melayani klien, melayani pasien, dan lain-lain. Dengan demikian, melayani adalah bagian dari memelihara kehidupan.

 

Coba bayangkan kehidupan tanpa adanya orang-orang yang mau melayani yang lain. Sebaliknya, bayangkan jika setiap pekerjaan, baik profesional maupun social, dimaknai sebagai pelayanan. Alangkah indahnya jika setiap tindakan atau pekerjaan dimaknai untuk melayani. Contoh, sebagai pemerintah, para pejabat itu benar-benar melayani rakyatnya agar tidak ada warga yang kelaparan dan wabah dapat tertangani dengan baik. Apakah mereka melayani rakyat? Kita dapat melihatnya.[]

 

Penulis adalah pendiri Sekolah Alam Wangsakerta di Cirebon

Digiqole ad