Pengasuhan Setara Cegah Kekerasan Dalam Pacaran

 Pengasuhan Setara Cegah Kekerasan Dalam Pacaran

Ilustrasi (Sumber: Free-vector/Freepik.com)

Di Indonesia, angka Kekerasan Dalam Pacaran (KDP) masih terbilang tinggi. Survei INFID dikutip dari Katadata.co.id (3/2/21) menunjukkan 40,6% responden mengaku menjadi korban kekerasan seksual oleh pacar. Data lain dari Komnas Perempuan mencatat  sepanjang 2021 terdapat 1.685 kasus KDP.

Tingginya KDP masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Pelibatan masyarakat setidaknya menjadi deteksi dini untuk menekan angka KDP. Tulisan ini akan mengulas tentang peran keluarga dan lingkungan sebagai upaya pencegahan KDP merujuk pada Ainul Mardiyah (2017) dalam Jurnal Psikologi Ulayat, Vol. 4 “Peran Dukungan Sosial Dalam Mencegah Kekerasan Dalam Pacaran: Studi Korelasi Pada Remaja di Jakarta.”

  1. Definisi Kekerasan Dalam Pacaran (KDP)

Kekerasan dalam pacaran adalah perilaku kasar pasangan dalam bentuk fisik, emosional, psikologis, dan seksual. Penelitian Davis (2008) mendefinisikan kekerasan fisik merupakan perilaku kekerasan yang bertujuan untuk mengendalikan atau menyakiti pasangan, termasuk ancaman dan tindakan intimidasi. Kekerasan fisik dapat berupa memukul, menampar, menendang, menjambak, dan lain-lain.

Baca Juga: Dari Kekerasan dalam Pacaran ke KDRT

Wall (2009) menjelaskan kekerasan atau pelecehan verbal biasanya menjadi penanda suatu hubungan berpotensi mengarah pada kekerasan fisik. Dalam hal ini beberapa remaja salah mengartikan agresi atau pelecehan verbal sebagai bentuk cinta.

Sedangkan Nurakhmi & Astuti (2008) mengungkap kekerasan emosional berdampak pada perasaan sakit hati, tertekan, marah, perasaan terkekang, minder, dan perasaan lain yang tidak nyaman.

2. Keluarga Bentuk Harga Diri Remaja

Penelitian Wall (2009) menjelaskan kedekatan orang tua dengan anak memiliki pengaruh penting pada perkembangan harga diri anak remaja sebagai pembentukan dasar seorang anak.

Selain itu, penelitian Richards, Branch, dan Ray (2014) menunjukkan bahwa dukungan teman sebaya berpengaruh jauh lebih besar untuk menurunkan tingkat kekerasan dalam pacaran pada remaja dibandingkan dengan dukungan dari orangtua.

Mengacu pada dua penelitian tersebut mengungkap adanya korelasi antara dukungan keluarga dan teman  terhadap kecenderungan seseorang untuk menjadi pelaku atau korban KDP.

3. Relasi yang Tidak Setara

Wall (2009) mengemukakan laki-laki digambarkan sebagai agresif dan perempuan digambarkan sebagai pasif. Sementara Davis (2008) menjelaskan anak laki-laki cenderung digambarkan menggunakan kekerasan fisik sebagai sarana untuk mengontrol pacarnya. Sementara anak perempuan lebih cenderung menggunakan kekerasan fisik untuk membela diri (Davis, 2008).

Baca Juga: Aturan Hukum dan Penanganan Kekerasan Seksual dalam Relasi Pacaran

Dari rujukan di atas keluarga perlu mengajarkan anaknya bahwa posisi laki-laki dan perempuan sama. Bahwa laki-laki dan perempuan adalah manusia yang punya peran sama dalam membangun kerjasama, toleransi, saling menghargai, saling menghormati. Termasuk membangun lingkungan yang nyaman tanpa kekerasan.

4. Tiga Komponen Dukungan Sosial

Antara lain keluarga, teman sebaya, dan seseorang yang spesial (significant others).  Keluarga adalah lingkungan terkecil dari masyarakat.

Dariyo (2004) mendefinisikan teman sebaya merupakan relasi antar individu yang akrab, saling percaya, saling menerima, ingin berbagi perasaan, pemikiran dan pengalaman, serta beraktivitas bersama.

Adapun significant others menurut Canty-Mitchell dan Zimet (2000), pada remaja yang dalam tahap tertarik dengan lawan jenis juga banyak dipengaruhi orang dewasa yang bukan bagian dari keluarganya.

5. Korelasi Keluarga dengan KDP

Dalam simpulannya,  Ainul mengungkap peran keluarga sangat berhubungan terhadap kecenderungan seseorang untuk melakukan perilaku KDP.  Dukungan keluarga terutama orang tua berpengaruh dalam membangun interaksi dengan lawan jenis yang lebih sehat dan konstruktif.

Baca Juga: Memulihkan Kondisi dan Fungsi Keluarga

Sebaliknya, dalam penelitian ini significant others tidak memiliki korelasi dengan kecenderungan perilaku KDP.  Kemungkinan lantaran significant others bukanlah seseorang yang berdampak langsung dalam kehidupan responden dalam penelitian ini.

Begitu juga dengan dukungan sebaya yang tidak berkorelasi dengan KDP karena tidak adanya kelekatan.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dukungan keluarga penting bagi anak usia remaja sebagai upaya pencegahan KDP agar tidak menjadi pelaku atau korban.

***

Sebagai komponen terkecil dari masyarakat sudah sepatutnya keluarga menjadi bagian dari pencegahan KDP. Relasi setara orang tua setidaknya menjadi alarm bagi anak untuk terhindar menjadi pelaku atau korban KDP. [Nur Azizah]

Digiqole ad