Kegigihan Perjuangan Silvy, Sebagai Tonggak Awal Meruntuhkan Stigma

 Kegigihan Perjuangan Silvy, Sebagai Tonggak Awal Meruntuhkan Stigma

Sapaan ayunya Silvy Chipy. Dia terlahir sebagai laki-laki di sebuah kampung kecil, tak jauh dari kota Maumere, Nusa Tenggara Timur. Meski Silvy terlahir sebagai laki-laki, di dalam dirinya tumbuh jiwa feminin.

Jiwa itu seperti terbelenggu dalam tubuh kepriaannya. Ia harus jalani dan rasakan selama berpuluh tahun. Bahkan di usia belianya ia ingin melawan kemapanan.

Silvy sadar bahwa dirinya terlahir sebagai seorang pria. Keinginannya untuk memakai busana dan riasan Perempuan pun tak kesampaian. Lipstik, bedak, eye shadow, eye liner dan lainnya harus ia kubur dalam-dalam. Budaya dan agama tak mengizinkannya untuk memakai itu semua.

Ia ingin menggugat kemapanan  itu. Siapa yang menetapkan budaya tersebut? Bukankah budaya merupakan hasil kreasi manusia. Lantas siapa yang berhak menentukan hidup ini semua? Bukankah ia harus menentukan diriku sendiri. Ini adalah pergulatan panjang seorang Silvy.

Baca Juga: Kami dengan Segala Stigma

Bahkan di sekolah yang menjadi tempat manusia menemukan “kesadaran diri” pun masih banyak yang tak menerima kehadiran orang semacam Silvy. Ia mengaku mendapat perlakuan diskriminatif dari sahabat, bahkan guru sekolahnya.

Setelah sekian lama berjuang karena mendapatkan banyak penolakan, Silvy akhirnya benar-benar menjadi manusia yang bebas ketika ia berada di lingkungan yang tepat. Lingkungan yang memiliki semangat perjuangan yang sama yaitu berada di tengah-tengah teman komunitasnya sesama transpuan. Kebebasan ini ia peroleh usai menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas.

Kebebasan pada hakikatnya menjadi milik setiap orang tanpa kecuali. Kebebasan mestinya tidak boleh direnggut oleh siapapun sebab ia otonom pada dirinya sendiri. Sebab, orang yang bebas dapat mewujudkan eksistensjnya secara kreatif. Ia dapat merealisasikan kemungkinan-kemungkinan dengan kemandirian dan otonomi yang paling besar. Atau dengan kata lain, orang yang bebas mesti terlepas dari segala alienasi atau keterasingan.

Sekarang, Silvy tak merasa terasing lagi sebab eksistensinya telah diterima oleh keluarga, sahabat dan lingkungan meski masih dalam keterbatasan. Kebebasan eksistensialnya ini didapatnya bukan tanpa perjuangan. Keringat dan darah mengucur untuk mendapatkan pengakuan. Kini, ia telah menjadi otonom, dewasa dan matang secara rohani.

Baca Juga: #SalingSapaSalingJaga, Gerakan Sederhana bagi Kawan LBTQ

Hidup di negeri yang masih permisif dengan kelompok transpuan dan individu dengan ragam identitas dan ekspresi gender terkadang membuatnya sangat berhati-hati sebab terkadang mendapat perlakuan yang tak manusiawi. Apalagi negara dan agama tak mengakui eksistensi mereka, sehingga pelecehan terhadap mereka dianggap wajar.

Stigma terhadap transpuan sebagai manusia tak beradab selalu menghantui setiap pergerakan mereka. Hal ini terjadi karena masih minimnya edukasi terhadap sahabat-sahabat yang memiliki ragam identitas dan ekspresi gender.

Situasi pelecehan, stigma, prasangka dan kebencian ini menyadarkan Silvy untuk memperjuangkan komunitasnya untuk diakui sama berkedudukan di mata hukum dan pencipta. Ia ingin menggugat kemapanan berpikir dan bertindak, sehingga ada pengakuan bahwa apa pun keadaan seseorang, merupakan manusia yang sama yang berasal dari Pencipta yang sama.

Perjuangan yang tengah mereka lakukan adalah mengadvokasi sesama teman yang mengalami perundungan akibat stigma buruk masyarakat.

Baca Juga: Femisida Bukan Peristiwa Pembunuhan Perempuan Biasa

Silvy mengambil jalan perlawanan untuk memperjuangkan nasib kelompok minoritas gender dan seksualitas yang termarginalkan. Bersama dengan teman-teman komunitasnya, ia kokoh mengangkat bendera perjuangan bernama Fajar Sikka. Mereka tak gentar menghadang badai perlawanan.

Lebih dari itu, Silvy mengungkapkan, Fajar Sikka terlibat dalam kerja edukasi dan kampanye untuk menyuarakan pentingnya menghargai sesama manusia kepada masyarakat. Hal ini agar masyarakat bisa secara bertahap menyadari pentingnya penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia, termasuk mereka dari yg mempunyai ragam identitas dan ekspresi gender yang berbeda, terkhusus transpuan.

Dia berharap, masyarakat nantinya bisa menerima dan merangkul kelompok dengan ragam identitas dan ekspresi gender pada umumnya, dan para transpuan khususnya, karena mereka juga adalah warga negara yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama di negara ini.

Baca Juga: Solidaritas untuk Korban Kekerasan dan Kelompok Marginal

Silvy Chipy adalah seorang transpuan yang aktif dalam organisasi Fajar Sikka dan PERWAKAS, aktivis pembela HAM dan isu perubahan iklim, Silvy sering terlibat dalam program kerja kolektif bersama komunitas-komunitas yang bergerak di isu HAM, kesenian, dan perubahan iklim, sebagai anggota jurnalis warga Pena Inklusi dan menjadi penulis lepas di beberapa media lokal. Penulis sekarang sedang mengerjakan program Fajar Sikka bersama kelompok-kelompok rentan dalam menyusun RANPERDA Kota Ramah HAM, Silvy juga aktif dalam gerakan feminisme. Penulis sendiri adalah konten kreator sekaligus admin media sosial Instagram dan tiktok @transpuan_Sikka

 

Digiqole ad