Hosting Unlimited Indonesia

6 Kekeliruan Melarang Perempuan Bekerja

 6 Kekeliruan Melarang Perempuan Bekerja

Ilustrasi (JalaStoria.id)

Di zaman modern seperti sekarang ini, ternyata masih ada lho yang melarang perempuan bekerja. Alasan klasik biasanya karena tidak ada yang mengasuh anak, atau menilai pekerjaan domestik di rumah lebih mulia daripada pekerjaan di luar rumah. Ada pula yang beralasan bahwa perempuan cukup mengandalkan penghasilan suami saja sehingga tidak perlu lagi mencari nafkah.

Bagi pasangan yang sudah menikah, sebaiknya antara suami dan istri saling berdialog agar tidak terjadi dominasi antara satu pihak kepada pihak lainnya. Keputusan bekerja atau tidak bekerjanya salah satu pihak hendaknya diambil sebagai keputusan bersama, bukan sebagai sikap otoriter salah satu pihak.

Namun, jika salah satu pihak tetap memaksakan pandangannya dan melarang perempuan bekerja, sebaiknya pertimbangkan kembali agar tidak mengambil keputusan yang keliru dan disesali kemudian hari.

  1. Belum Tentu Berumur Panjang

Soal umur, tentu hanya Tuhan yang tahu. Bisa saja suami berumur lebih panjang dari istri, namun demikian pula sebaliknya. Syukur-syukur jika suami dan istri berumur panjang dan dapat menikmati usia tua bersama hingga ajal memisahkan mereka.

Namun, bagaimana jika suami yang terlebih dahulu menghadap Yang Kuasa sementara istri tidak bekerja? Apabila istri masih berusia produktif, mungkin masih terbuka kesempatan untuk bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga. Namun, jika usia sudah tak lagi memungkinkan, ditambah tidak adanya dana pensiun dari suami yang sudah meninggal, bukankah hanya akan meninggalkan generasi berikutnya berada dalam kemiskinan?

 

  1. Belum Tentu Setia

Setiap istri tentu berharap memiliki seorang suami yang bertanggung jawab penuh untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga dan rumah tangganya. Namun, sekalipun penghasilan suami cukup besar bahkan mampu membuat istri hidup mewah, hal itu tidak lantas kemudian membuat suami berhak melarang istri bekerja.

Bagaimanapun, istri berhak bekerja agar ia mempunyai penghasilan sendiri yang tidak bergantung dari pemberian suami. Suatu pengalaman seorang istri yang pernah viral “layangan putus” sesungguhnya memberi gambaran betapa kemewahan dan kekayaan yang dimiliki suami tidak serta merta membuat istri dan juga anak-anaknya akan hidup terjamin.

Tentu tidak setiap laki-laki mudah tergoda dengan perempuan lain, namun bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati?

 

  1. Belum Tentu Mencukupi

Setiap orang tentu mengharapkan penghasilan yang layak untuk dirinya dan keluarganya. Dengan memiliki penghasilan, kesejahteraan keluarga akan dapat ditingkatkan. Penyediaan sandang, pangan, dan papan juga akan dapat ditutupi sesuai kebutuhan.

Namun demikian, kita tidak dapat menutup mata bahwa masih ada orang yang bekerja namun penghasilannya tidak memadai untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Misalnya, jangankan mau menabung, menyisihkan untuk biaya jaminan kesehatan saja mungkin sulit sehingga harus mengandalkan subsidi dari pemerintah.  Bagi istri yang tidak bekerja, kondisi keuangan yang pas-pasan juga akan mudah memicu stress karena dituntut mengelola uang yang seadanya untuk menutupi kebutuhan keluarga yang setiap hari semakin bertambah.

 

  1. Rentan KDRT

Pertengahan Desember 2019, LBH APIK Jakarta meluncurkan laporan mengenai penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan lembaga tersebut. Dalam laporannya, LBH APIK Jakarta mencatat bahwa perempuan dengan status ibu rumah tangga atau tidak bekerja merupakan jumlah terbesar yang mengalami kekerasan dan melaporkan kasusnya.

Padahal, tidak mudah lho bagi ibu rumah tangga untuk melaporkan KDRT yang dialaminya, apalagi untuk menyelesaikan melalui jalur perdata atau bercerai. Mereka tentu berpikir seribu kali sebelum akhirnya memutuskan apakah akan terus bertahan dalam hidup penuh kekerasan atau melepaskan diri  dari KDRT dengan resiko kehilangan pemberi nafkah yang menjadi tempat bergantung.

 

  1. Ketidaksetaraan Peran dalam Pengasuhan

Ada kecenderungan umum melarang perempuan bekerja karena menganggap perempuan yang bekerja akan abai terhadap keluarga dan anak-anaknya. Pemikiran ini selaras dengan diskriminasi terhadap perempuan berupa multiburden atau beban berganda yang ditanggung oleh perempuan. Dalam masyarakat kita yang masih patriarkhis, perempuan yang bekerja hanya akan dibilang sukses apabila ia mampu memperlihatkan bahwa ia dan anak-anaknya baik-baik saja. Sementara itu, sekalipun suami dan istri keduanya bekerja, jika terdapat permasalahan pada anak dan keluarga biasanya maka yang dituding tidak bertanggung jawab hanya pihak istri.

Bagi suami dan istri yang bekerja, mengambil peran yang setara dalam pengasuhan anak sangat mutlak diperlukan. Kekhawatiran terabaikannya pengasuhan anak seharusnya tidak dibebankan kepada perempuan saja, melainkan juga laki-laki karena anak tidak akan hadir tanpa keberadaan perempuan dan laki-laki.

 

  1. Atas Nama Agama

Apabila pelarangan perempuan bekerja didasarkan pada doktrin yang mengatasnamakan agama, sebaiknya pertanyakan kembali melalui hati nurani, benarkah agama melarang perempuan bekerja? Bukankah ajaran agama memerintahkan setiap orang untuk berlomba dalam kebaikan, bukan keburukan. Berlomba dalam kebaikan tentu hanya akan terwujud apabila setiap orang, baik laki-laki dan perempuan, mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi manusia yang dapat berbuat baik di ruang yang sama, baik ruang privat maupun publik.

Namun demikian, perlu diingat bahwa memaksa perempuan bekerja adalah juga sama kelirunya dengan melarang perempuan bekerja. Sekali lagi, seorang perempuan yang memilih bekerja atau tidak bekerja hendaklah didasarkan atas dasar pilihan dan kesepakatan, bukan paksaan apalagi dominasi orang yang lebih berkuasa pada dirinya.[]

 

Ema Mukarramah

 

JalaStoria membuka ruang konsultasi bagi pihak-pihak yang hendak berkonsultasi terkait perempuan dan anak


Hosting Unlimited Indonesia